
Muhary Wahyu Nurba
(Makassar)
Lahir di Makassar, 5 Juni 1972. Aktif berkesenian sebagai anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea. Selain menulis sajak, juga menulis cerpen, esei dan mengerjakan desain grafis.
Puisi-puisinya dimuat pada beberapa media antara lain: Fajar, Pedoman Rakyat (Makassar), Jurnal Puisi (jakarta) dan Plangi Magazine (Australia). Tahun 2004 diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan puisi-puisinya dalam Forum Cakarawala Sastra Indonesia. Bukunya yang telah terbit antara lain: Meditasi (1996), Jadilah Aku Angin Jadilah Kabut (1997), dan Sekuntum Cahaya (1999). Sehari-harinya bekerja sebagai editor dan terlibat dalam bidang penerbitan pada Gora Pustaka Indonesia. Selain itu aktif di LSM Tanda Baca Indonesiaku. Salah satu puisinya :
Puisi-puisinya dimuat pada beberapa media antara lain: Fajar, Pedoman Rakyat (Makassar), Jurnal Puisi (jakarta) dan Plangi Magazine (Australia). Tahun 2004 diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan puisi-puisinya dalam Forum Cakarawala Sastra Indonesia. Bukunya yang telah terbit antara lain: Meditasi (1996), Jadilah Aku Angin Jadilah Kabut (1997), dan Sekuntum Cahaya (1999). Sehari-harinya bekerja sebagai editor dan terlibat dalam bidang penerbitan pada Gora Pustaka Indonesia. Selain itu aktif di LSM Tanda Baca Indonesiaku. Salah satu puisinya :
Sekarang Kuputuskan
sungguh menyedihkan
bila hanya duduk menunggu kematian
sekarang kuputuskan untuk berjalan sepanjang hidupku
seperti sebilah pedang yang sekian waktu tersimpan
kujenguk dan kuasah lagi jiwaku yang beku
kubaca dan kutandai perangai aneh cuaca
kuterjemahan isyarat sungai dan isyarat telaga
kuramu bahasa, menghembus makna
yang belum pernah kukenal sebelumnya
tentu sudah kuduga akan seperti ini muaranya
bahwa dunia akan tercipta berlapis-lapis penjara
dalam diriku. bahwa angan-angan tak pernah berhenti
membelai dan memperindah mimpi
sungguh menyedihkan
jika aku hanya duduk dan membiarkan
tubuhku habis diiris-iris waktu
aku berjalan ke negeri-negeri asing dan jauh
di sana kutemui berpasang-pasang kekasih
mereka saling berjanji, saling caci kemudian melupakan
berlembar-lembar risalah kubuka
menjadi petunjuk sekaligus membingungkan arah tujuanku
perempuan-perenpuan putih seputih mutiara
kadang merajuk demi seserpih keinginan yang fana
aku tersenyum sendirian, tersedu dan keheranan
melihat jiwaku edan tetapi tetap tenang
maka demi sehimpun kesedihan dan keriangan
merpati dalam genggaman kini kulepaskan
Makassar, 2005
1 komentar:
Posting Komentar